Polisi tidur, demikian “fitur” tambahan jalanan kita biasa panggil. Polisi tidur dapat saya artikan sebagai berikut : gundukan semen atau aspal yang digunakan untuk menghalangi pengguna jalan dengan kecepatan tinggi, umumnya diberi warna yang mencolok semisal loreng-loreng hitam putih. Bagi pengguna kendaraan bermotor, polisi tidur merupakan momok yang cukup ditakuti (mungkin lebih ditakuti dari polisi itu sendiri) karena terkenal banyak sekali yang celaka entah pengendaranya ataupun onderdil kendaraan cepat rusak. Namun apa sih sebenarnya akar masyarakat membangun “fitur” polisi tidur ini?. Sampai sedemikian parahnyakah budaya berlalu lintas kita? 

Beberapa waktu yang lalu beberapa orang diperumahan dekat saya tinggal, menyumpah serapahi anak muda yang sedang ngebut dijalanan gang kecil yang biasanya disana banyak anak kecil bermain. Kemudian tidak berselang beberapa lama saya melihat dijalan itu dibangun polisi tidur yang anehnya dibuat dari kayu balok. 

Dari cerita diatas saya berpikir apakah akar dari polisi tidur ini adalah manusia pengendara kendaraan bermotor yang kurang disiplin?. Kita melihat sendiri dalam praktek berkendara sehari-hari banyak orang yang mamatuhi aturan lalu lintas bila “ada polisi” saja. Kita runut dari awal, pada proses pembuatan SIM saja masih banyak dari kita masih mengandalkan calo untuk memuluskan pembuatan SIM. Bagaimana bisa tahu layak atau tidak mempergunakan kendaraan dijalan raya, tes tulis maupun praktek saja di “by-pass” dengan praktek percaloan ini. Nah, bayangkan apabila orang-orang yang belum tentu lulus ujian tulis dan praktek SIM ini mengendarai kendaraan di jalan raya? Ngeri deh!. Yang paling sering saya jumpai selain dari pembuatan SIM lewat calo adalah anak dibawah umur 17 tahun yang mengendarai kendaraan (entah punya SIM atau tidak), ah ngeri!.

Disekitar kampung halaman saya di Jawa Timur sering sekali saya jumpai kata-kata “ngebut benjut”, padahal kalimat ini sangat kasar. Mungkin kata-kata “pelan-pelan banyak anak kecil” tidak lagi dipakai karena kurang manjur. Akhirnya dengan paksaan dan nada kasarlah, akhirnya masyarakat membuat polisi tidur dan tulisan ancaman untuk tidak ngebut. Demikianlah gambaran berlalu-lintas kita yang kurang disiplin dan toleransi.

Mulailah dari diri kita sendiri untuk berpikir hal ini : dengan kendaraan yang Anda kendarai, Anda harus lebih memiliki rasa tanggung jawab dan toleransi yang lebih lagi. Semoga, artikel ini menggugah kesadaran kita berlalu-lintas.

Referensi & bacaan:

http://riefsa.wordpress.com/2007/08/08/polisi-tidur/

http://riosadja.wordpress.com/2008/05/12/polisi-tidur/

http://blogombal.org/2007/07/01/tanpa-polisi-tidur-semoga-aman/

http://id.wikipedia.org/wiki/Polisi_tidur

Sumber Gambar :

http://trendy.rasyid.net