Jakarta, Sudah 482 Tahun Umurmu
Pengunjung simadugan yang saya hormati. Terima kasih Anda sudah meluangkan waktu. Saya sangat menghargai setiap komentar Anda. Terutama sekali adalah komentar-komentar yang berupa tanggapan ataupun kritik yang membangun.
Tulisan kali ini saya akan membahas hal mengenai permasalahan utama di Ibu kota Indonesia. Tempat dimana saya, para perantau maupun penduduk asli lahir, besar dan menggantungkan mata pencaharian fan hidup mereka sehari hari. Baru saja Kota Jakarta genap berumur 482 Tahun(22 Juni 2009). Tahun(2009) ini Jakarta dipimpin oleh Gubernur Bpk. Fauzi Bowo yang terpilih menggantikan Gubernur sebelumnya Bpk. Sutiyoso.
Kita bisa lihat bahwa banyak sekali yang masih harus dibenahi di Jakarta. Ada 3 hal yang maih menjadi momok besar yang mempengaruhi keseluruhan aspek dalam kehidupan di Ibu Kota Jakarta. 3 hal itu antara lain adalah :
- Kemacetan
- Banjir, dan
- Pengemis
Saya percaya para pemimpin telah memperhatikan dan melakukan langkah-langkah penanggulangan. Hanya saja efek nyatanya seperti sangat kecil dan belum terasa. Sambil terus menghimbau pemerintah daerah, marilah mulai sekarang kita pun sebagai penduduk bisa ikut melakukan aksi nyata dalam menjaga dan memelihara Kota Jakarta.
Untuk kemacetan, mari bersama kita kurangi penggunaan kendaraan untuk perjalanan jarak dekat. Jagalah ketertiban dijalan raya apabila memang harus berkendara.
Untuk banjir, mari kita tidak membuang sampah sembarangan. Lakukan kerja bakti pembersihan selokan sungai dan kali secara rutin dan bersama sama. Dengan demikian pengairan akan mengalir lebih lancar. Siapapun terutama para penduduk di bantaran sungai agar tidak menjadikan sungai atau kali menjadi tempat sampah.
Untuk pengemis, marilah kita bantu mereka dengan bekal pendidikan ketrampilan selain dengan hanya memberikan sedekah. Dengan demikian agar mereka dapat memperoleh penghasilan dengan tidak mengemis. Hasil mengemis hanya dinikmati untuk mengemis di kemudian hari. Itupun kalau mereka tidak dipekerjakan oleh penadah. Untuk hal ini aparat harus tegas menindak para penadah yang mengorganisir orang-orang cacat untuk mengemis.
Pemerintah daerah pun harus menyadari bahwa usaha kita sebagai penduduk tidak memberikan manfaat jangka panjang tanpa gerak cepat pemerintah untuk menanggulangi masalah tersebut pada akar permasalahannya hingga tuntas.
Tips diatas memang lebih mudah diucapkan dari pada di laksanakan. Tapi penulis bermaksud agar para pengunjung mau mengusahakan dari diri sendiri untuk merubah kebiasaan dan pola hidup yang baik. Tentu manfaatnya tidak bisa kita rasakan secara instant. Tetapi harapan untuk hidup di Kota Jakarta yang nyaman, sehat dan maju sebenarnya terletak di tangan kita semua penghuni kota Jakarta. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata mata. Kita semua punya andil untuk kenyamanan kita bersama.
Mari kita mulai dari diri sendiri. Pemerintah daerah pun bisa segera memulai langkah2 penanganan sebelum masalah-masalah tersebut menjadi besar dan sulit di selesaikan.
Terima kasih atas waktunya. Sampai ketemu di lain kesempatan.
| Print article | This entry was posted by haryanto on 25 Juni 2009 at 10:30, and is filed under Sosial & Budaya. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |

