Bulan Ramadhan bulan penuh ampunan. Di bulan ini banyak rekan muslim kolega saya menjalankan puasa. Siang hari pantry mendadak sepi dimana biasanya bekal makan siang sudah berbaris disana. Tetapi niat dan semangat kerohanian mereka patut diteladani. Puasa bisa dianggap sebagai metode yang ditemukan oleh Nabi Muhammad untuk melatih umat-umatnya untuk merasakan indahnya kesabaran. Memberi kesempatan 1 bulan penuh bagi umat Islam untuk melihat kedalam diri mereka. Praktik tidak makan di siang hari ini otomatis memaksa pikiran agak lebih terkendali karena kita harus selalu ingat kalau energi perlu dihemat. Pikiran perlu disemayamkan dalam ketenangan yang tentram. Toleransi pun tumbuh dan emosi negatif perlahan terabaikan.

Dahaga di tenggorokan. Ngantuk karena bnagun pagi untuk sahur. Lesu pada awal puasa. Tarawih setelah berbuka puasa. Sedekah untuk sesama. Itu semua suka dan duka hidup yang penuh kesederhanaan. Secara otomatis perasaan ini juga menyatukan si kaya dan si miskin dalam pengalaman yang sama. Disinilah letak keagunggan/efektifitas metode spiritual dari Sang Penemunya.

Hingga penghujung bulan puasa, semua bersama sama merayakan kemenangan. Kemenangan atas apa? Kemenangan atas diri mereka sendiri. Atas segala pengendalian diri dan kesabaran yang mulai bertumbuh subur kembali. Kejernihan pikiran dan kebahagiaan berkumpul bersama keluarga adalah obat bagi penderitaan hati-hati yang penat oleh kesibukan. Materi dan nafkah baru benar-benar terasa manfaatnya apabila dibagikan dan dinikmati bersama-sama orang tercinta. Semoga rasa ini terus terpelihara hingga setiap hari adalah seperti hari yang suci untuk saling berbagi kebahagiaan.