Minum Kopi

Hance : Aku kalau minum kopi tidak bisa tidur.
Yoshi : Kalau aku malah sebaliknya, kalau tidak minum kopi tidak bisa tidur.
Nyong : Kalau aku lebih parah lagi, kalau sudah tidur tidak bisa minum kopi.
Anjing Pintar
Istri : pa, sekarang anjing kita makin pintar aja deh, Pa! Dia membawakan koran baru setiap pagi
Suami : Itu sih biasa aja.. Banyak anjing yang bisa seperti itu.
Istri : Tapi kita kan tidak pernah langganan koran Pa!

 

Obat Panas
Seorang dokter melihat pasiennya yang sedang membuat kopi, kemudian memasukkan sebutir obat ke dalamnya.
Dengan penasaran dokter bertanya kepada si pasien.
Dokter : "Obat apa yang kamu masukan ke kopimu?"
Pasien : "Obat penurun panas, biar kopinya cepat dingin."

 

Penjual Gado-Gado
Suatu hari sebuah kereta api melaju dengan kencang hendak melewati perkampungan. Di perkampungan itu ada seorang ibu penjual gado-gado selesai mencuci serbetnya (kain lapnya) yang berwarna merah.. Selesai mencuci dia mengibaskan serbet tersebut untuk dijemur di pagar pembatas antara rel kereta dengan kampung..
Dari kejauhan, sang masinis kereta melihat si ibu dengan kain lap yang berwarna merah yang dikebas-kebaskan. . Masinis menjadi menyangka ibu itu memberi tanda bahaya. Dengan khawatir masinis segera mengerem keretanya secara mendadak hingga menyebabkan para penumpang kereta terjungkal.
Lalu masinis bertanya pada ibu tersebut, "Ada apa, Bu!"
Si ibu penjual gado-gado pun menjawab dengan ringan, "Hampir habis, Pak. Tinggal kacang panjang dan kangkung doang!"

Tukang Kue Error

Seorang dokter memesan sebuah kue ulang tahun untuk istrinya.
"Apa tulisan yang harus saya tulis di kue ulang tahun ini, Pak?" tanya si tukang kue.
"Mmmm, tulis aja "Kamu tidak bertambah tua" di bagian atas, kemudian sambung dengan "Kamu cuma bertambah cantik" di bagian bawah," kata dokter.
Dan ketika kue ulang tahun itu tiba di depan istri dan tamu-tamu undangan lainnya, si dokter langsung semaput ketika membaca tulisan yang tertera di kue itu:
"KAMU TIDAK BERTAMBAH TUA DI BAGIAN ATAS KAMU CUMA BERTAMBAH CANTIK DI BAGIAN BAWAH."

Bindeng

Suatu hari Nyong sedang dalam perjalanan dari Cinere ke Pondok Labu dengan menumpang sebuah angkot, dan kebetulan saya duduk di sebelah sopir. Setelah sampai di depan Mal Cinere, ada seorang pemuda minta
diturunkan, kemudian pemuda itu hendak membayar ongkosnya. Si pemuda itu bertanya kepada sopir di sebelah saya, namun rupanya si pemuda itu suaranya bindeng.
Pemuda : hang ! heraha onghosha ? ( Bang ! berapa ongkosnya ? )
Namun sopir di sebelah saya itu diam saja.
Pemuda : hang ! heraha onghosha ?
hihanya hok hiem aha, huhek huping
huha ? (Bang ! berapa ongkosnya ? ditanya kok diem aja, budek kuping lu ya ? )
Sopir tetap diam.
Pemuda : he hrengsek ! hihanya hiem aha ! uhah hih hepek aha !(Ye brengsek ! ditanya diem aja ! udah nih cepek aja! )
Setelah menerima uang cepek ( Rp 100 ) itu, si sopir segera menjalankan angkotnya lagi.
Lalu Si Nyong bertanya pada sopir, "Bang, kenapa sih tadi ditanya sama orang itu, kog nggak jawab ?"
Lalu si sopir menjawab, "Hua hih hukannya hak hau hawab ! hari hada hua hikira heledek, hendingan hua hugi hepek !" (Gua sih bukannya nggak mau jawab! dari pada gua dikira ngeledek, mendingan gua rugi cepek !").
Rupanya si sopir juga bindeng…

 

Turis

Dua orang turis dari Amerika masuk ke sebuah restoran Cina di Glodok.
Ketika melihat semangkuk sambal di atas meja, seorang dari mereka berkata, "Makanan apa ini?"
"Kelihatannya enak benar," temannya menyambung.
Tanpa ragu-ragu si turis yang pertama tadi mengambil sesendok sambal dan dilahapnya sekaligus.
Tentu saja mendadak airmatanya berleleran.
"Kenapa kamu menangis?" tanya temannya.
"Ah, tidak apa-apa," jawabnya kalem. "Saya cuma sedang teringat akan ayah saya yang barusan meninggal. Makanan ini sungguh enak."
Tanpa ragu-ragu pula temannya tersebut mencoba sesendok sambal.
Sebentar kemudian airmatanya pun berleleran pula.
"Kenapa kamu menangis?" tanya si turis pertama.
"Ah, tidak apa-apa. Saya cuma menyesal kenapa kamu tidak ikut meninggal bersama ayahmu saja!!"