<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Silahkan Mampir Dulu Juragan &#187; Sosial &amp; Budaya</title>
	<atom:link href="http://simadugan.com/category/sosial-budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://simadugan.com</link>
	<description>Informasi Warisan Budaya Indonesia, Hiburan, Kord dan Lirik Lagu</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Jun 2010 15:13:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Keris Mpu Gandring</title>
		<link>http://simadugan.com/2010/06/keris-mpu-gandring/</link>
		<comments>http://simadugan.com/2010/06/keris-mpu-gandring/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 15:13:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suls</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[airlangga]]></category>
		<category><![CDATA[anusapati]]></category>
		<category><![CDATA[empu gandring]]></category>
		<category><![CDATA[kebo ijo]]></category>
		<category><![CDATA[ken arok]]></category>
		<category><![CDATA[ken dedes]]></category>
		<category><![CDATA[keris]]></category>
		<category><![CDATA[mpu gandring]]></category>
		<category><![CDATA[singasari]]></category>
		<category><![CDATA[singosari]]></category>
		<category><![CDATA[tunggal ametung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simadugan.com/2010/06/keris-mpu-gandring/</guid>
		<description><![CDATA[Keris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur sekarang. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, ken Arok.
Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama Mpu Gandring, atas pesanan Ken Arok,]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><b>Keris Mpu Gandring</b> adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Singhasari">Kerajaan Singhasari</a> di daerah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malang">Malang</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur">Jawa Timur</a> sekarang. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ken_Arok">ken Arok</a>.</p>
<p align="justify">Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mpu_Gandring">Mpu Gandring</a>, atas pesanan Ken Arok, salah seorang tokoh penyamun yang menurut seorang <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Brahmana">brahmana</a> bernama <a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lohgawe&amp;action=edit&amp;redlink=1">Lohgawe</a> adalah titisan wisnu. Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para &quot;<i>mpu</i>&quot; (gelar bagi seorang pandai logam yang sangat sakti) pada masa itu. Namun Mpu Gandring menyanggupinya dengan kekuatan gaib yang dimilikinya. Bahkan kekuatan tadi &quot;<i>ditransfer</i>&quot; kedalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut.</p>
<p align="justify"><img src="http://ari3f.files.wordpress.com/2008/02/kja20ds.jpg" width="411" height="520" /> </p>
<p align="justify">Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu. Mpu Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris tersebut. Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah satu hari dan haris diambil. Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut dan terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya</p>
<p> <span id="more-568"></span>
<p align="justify"> tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat) selebihnya bahkan dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris (yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah kemampuannya). Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singhasari yakni :</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<h4>Terbunuhnya Tunggul Ametung</h4>
<p align="justify">Tunggul Ametung, kepala daerah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tumapel">Tumapel</a> (cikal bakal Singhasari) yang saat itu adalah bawahan dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kadiri">Kerajaan Kadiri</a> yang saat itu diperintah oleh<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kertajaya">Kertajaya</a> yang bergelar &quot;<i>Dandang Gendis</i>&quot; (raja terakhir kerajaan ini). Tumapel sendiri adalah pecahan dari sebuah kerajaan besar yang dulunya adalah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Jenggala">Kerajaan Jenggala</a> yang dihancurkan Kadiri, dimana kedua-duanya awalnya adalah satu wilayah yang dipimpin oleh <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Airlangga">Airlangga</a>.</p>
<p align="justify">Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya yang cantik, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ken_Dedes">Ken Dedes</a>. Ken Arok sendiri saat itu adalah pegawai kepercayaan dari Tunggul Ametung yang sangat dipercaya. Latar belakang pembunuhan ini adalah karena Ken Arok mendengar dari Brahmana Lohgawe bahwa &quot;<i>barang siapa yang memperistri Ken Dedes akan menjadi Raja Dunia</i>&quot;.</p>
<p align="justify">Sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, keris ini dipinjamkan kepada rekan kerjanya, yang bernama <a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kebo_Ijo&amp;action=edit&amp;redlink=1">Kebo Ijo</a> yang tertarik dengan keris itu dan selalu dibawa-bawanya kemana mana untuk menarik perhatian umum. Bagi Ken Arok sendiri, peminjaman keris itu adalah sebagai siasat agar nanti yang dituduh oleh publik Tumapel adalah Kebo Ijo dalam kasus pembunuhan yang dirancang sendiri oleh Ken Arok. Siasatnya berhasil dan hampir seluruh publik Tumapel termasuk beberapa pejabat percaya bahwa Kebo Ijo adalah tersangka pembunuhan Tunggul Ametung. Ken Arok yang saat itu adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung langsung membunuh Kebo Ijo yang konon, dengan keris pusaka itu.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<h4>Terbunuhnya Ken Arok</h4>
<p align="justify">Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengambil jabatannya, memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung dan memperluas pengaruh Tumapel sehingga akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Kediri. Ken Arok sendiri akhirnya mendirikan kerajaan Singhasari.</p>
<p align="justify">Rupanya kasus pembunuhan ini tercium oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan ayah Tunggul Ametung. Anusapati, yang diangkat anak oleh Ken Arok mengetahui semua kejadian itu dari ibunya, Ken Dedes dan bertekat untuk menuntut balas. Anusapati akhirnya merancang pembalasan pembunuhan itu dengan menyuruh seorang pendekar sakti kepercayaannya, Ki Pengalasan.</p>
<p align="justify">Pada saat menyendiri di kamar pusaka kerajaan, Ken Arok mengamati pusaka kerajaan yang dimilikinya. Salah satu pusaka yang dimilikinya adalah keris tanpa sarung buatan Mpu Gandring yang dikenal sebagai Keris Mpu Gandring. Melihat ceceran darah pada keris tersebut, ia merasa ketakutan terlebih lebih terdengar suara ghaib dari dalam keris tersebut yang meminta tumbal. Ia ingat kutukan Mpu Gandring yang dibunuhnya, dan serta merta mebantingnya ke tanah sampai hancur berkeping-keping. Ia bermaksud memusnahkannya. Namun ternyata keris tersebut melayang dan menghilang. Sementara Anusapati dan Ki Pengalasan merancang pembunuhan tersebut, tiba-tiba keris tersebut berada di tangan Anusapati. Anusapati menyerahkan keris kepada Ki Pengalasan yang menurut bahasa sekarang, bertugas sebagai &quot;<i>eksekutor</i>&quot; terhadap Ken Arok. Tugas itu dilaksanakannya, dan untuk menghilangkan jejak, Anusapati membunuh Ki Pengalasan dengan keris itu.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<h4>Terbunuhnya Anusapati</h4>
<p align="justify">Anusapati mengambil alih pemerintahan Ken Arok, namun tidak lama. Karena <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tohjaya">Tohjaya</a>, Putra Ken Arok dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ken_Umang">Ken Umang</a> akhirnya mengetahui kasus pembunuhan itu. Dan Tohjaya pun menuntut balas.</p>
<p align="justify">Tohjaya mengadakan acara Sabung Ayam kerajaan yang sangat digemari Anusapati. Ketika Anusapati lengah, Tohjaya mengambil keris Mpu Gandring tersebut dan langsung membunuhnya di tempat. Tohjaya membunuhnya berdasarkan hukuman dimana Anusapati diyakini membunuh Ken Arok. Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Anusapati.</p>
<p align="justify">Tohjaya sendiri tidak lama memerintah. Muncul berbagai ketidak puasan baik dikalangan rakyat dan bahkan kalangan elit istana yang merupakan keluarganya dan saudaranya sendiri, diantaranya <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mahisa_Campaka">Mahisa Campaka</a> dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dyah_Lembu_Tal">Dyah Lembu Tal</a>. Ketidakpuasan dan intrik istana ini akhirnya berkobar menjadi peperangan yang menyebabkan tewasnya Tohjaya. Setelah keadaan berhasil dikuasai, tahta kerajaan akhirnya dilanjutkan oleh <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ranggawuni">Ranggawuni</a> yang memerintah cukup lama dan dikatakan adalah masa damai kerajaan Singashari. Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Mpu Gandring hilang tidak</p>
<p>&#160;</p>
<h4>7 Turunan Ken Arok</h4>
<p align="justify">Keris Mpu Gandring ini menurut beberapa sumber spritual sebenarnya tidak hilang. Dalam arti hilang musnah dan benar-benar tidak ketahuan keberadaannya. Pada bagian ini tak hendak membahas masalah itu. Pada bagian ini hendak mengajak para pembaca untuk sejenak menganalisa &quot;keampuahan&quot; atau &quot;tuah&quot; dari keris itu maupun pembuatnya (Mpu Gandring).</p>
<p align="justify">Di akhir hayatnya di ujung keris buatannya sendiri, Mpu Gandring mengutuk Ken Arok, bahwa keris itu akan menelan korban tujuh turunan dari Ken Arok. Sekarang marilah kita hitung. Dalam sejarah ataupun legenda yang kita ketahui, ternyata hanya ada 7 (tujuh) orang yang terbunuh oleh Keris Mpu Gandring, dimana keturunan Ken Arok yang terbunuh hanyalah Tohjaya:</p>
<ol>
<li>
<div align="justify">Mpu Gandring, Sang Pembuat Keris. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Kebo Ijo, rekan Ken Arok. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Tunggul Ametung, Penguasa Tumapel pada saat itu. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Ken Arok, Pendiri Kerajaan Singasari. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Ki Pengalasan, pengawal Anusapati yang membunuh Ken Arok </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Anusapati, Anak Ken Dedes yang memerintah Ki Pengalasan membunuh Ken Arok. </div>
</li>
<li>
<div align="justify">Tohjaya, Anak Ken Arok dengan Ken Umang.</div>
</li>
</ol>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">sumber : <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keris_Mpu_Gandring">http://id.wikipedia.org/wiki/Keris_Mpu_Gandring</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simadugan.com/2010/06/keris-mpu-gandring/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lompat Batu Nias</title>
		<link>http://simadugan.com/2010/06/lompat-batu-nias/</link>
		<comments>http://simadugan.com/2010/06/lompat-batu-nias/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 16:31:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suls</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[fahombo batu]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lompat batu]]></category>
		<category><![CDATA[nias]]></category>
		<category><![CDATA[pariwisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simadugan.com/2010/06/lompat-batu-nias/</guid>
		<description><![CDATA[Melompat batu &#8216;fahombo batu&#8216; telah menjadi salah satu ciri khas masyarakat Nias. Banyak orang luar yang mengingat atau membayangkan Nias dengan lompat batu, sehingga ada juga yang mengira bahwa semua orang Nias mampu melompat batu yang disusun hingga mencapai ketinggian 2 m dengan ketebalan 40 cm.
Lompat batu merupakan tradisi masyarakat Nias Selatan, khususnya Teluk dalam.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Melompat batu &#8216;<em>fahombo batu</em>&#8216; telah menjadi salah satu ciri khas masyarakat Nias. Banyak orang luar yang mengingat atau membayangkan Nias dengan lompat batu, sehingga ada juga yang mengira bahwa semua orang Nias mampu melompat batu yang disusun hingga mencapai ketinggian 2 m dengan ketebalan 40 cm.</p>
<p align="justify">Lompat batu merupakan tradisi masyarakat Nias Selatan, khususnya Teluk dalam. Tradisi ini tidak biasa dilakukan oleh masyarakat Nias di wilayah lain, dan hanya kaum laki-laki yang melakukannya. Hal ini juga telah menjadi indikasi perbedaan budaya nenek moyang atau lelehur masyarakat Nias. Yang harus diketahui lagi, tidak pernah ada perempuan Nias yang melompat batu.</p>
<p align="justify"><a href="http://meiprieva.files.wordpress.com/2008/08/lompat-batu2.jpg"><img src="http://meiprieva.files.wordpress.com/2008/08/lompat-batu2.jpg" width="562" height="372" /></a> </p>
<p align="justify">Pada mulanya melompat batu, tidaklah seperti yang kita saksikan sekarang. Baik fungsi maupun cara penguasaannya. Dahulu melompat merupakan kombinasi olah raga dan permainan rakyat yang gratis, bukan tradisi komersial.</p>
<p align="justify"><strong>Uji kekuatan dan ketangkasan</strong></p>
<p align="justify">Melompat batu bukan sekedar konsumsi atau atrakasi pariwisata seperti kita lihat sekarang ini. Melompat batu merupakan sarana dan proses untuk menujukkan kekuatan dan ketangkasan para pemuda, sehingga memiliki jiwa heroik yang prestisius.</p>
<p> <span id="more-566"></span>
<p align="justify"></p>
<p align="justify">Jika seorang putra dari satu keluarga sudah dapat melewati batu yang telah disusun berdempet itu dengan cara melompatinya, hal ini merupakan satu kebanggaan bagi orangtua dan kerabat lainnya bahkan seluruh masyarakat desa pada umumnya. Itulah sebabnya setelah anak laki-laki mereka sanggup melewati, maka diadakan acara syukuransederhana dengan menyembelih ayam atau hewan lainnya. Bahkan ada juga bangsawan yang menjamu para pemuda desanya karena dapat melompat batu dengan sempurna untuk pertama kalinya. Para pemuda ini kelak akan menjadi pemuda pembela kampungnya &#8216;<em>samu&#8217;i mbanua atau la&#8217;imba hor&#246;</em>,&#8217; jika ada konflik dengan warga desa lain.</p>
<p align="justify"><strong>Kedewasaan dan Kematangan Fisik</strong></p>
<p align="justify">Melihat kemampuan seorang pemuda yang dapat melompat batu dengan sempurna, maka ia dianggap telah dewasa dan matang secara fisik. Karena itu hak dan kewajiban sosialnya sebagai orang dewasa sudah bisa dijalankan. Misalnya: menikah, membela kampungnya atau ikut menyerbu desa musuh dsb. Salah satu cara untuk mengukur kedewasaan dan kematangan seorang lelaki adalah dengan melihat kemampuan motorik di atas batu susun setinggi ! 2 meter.</p>
<p align="justify"><strong>Teknis Penguasaan Tradisi lompat batu</strong></p>
<p align="justify">Karena suatu kebanggaan, maka setiap pemuda tidak mau kalah dengan yang lain. Sejak umur sekitar 7-12 tahun atau sesuai dengan pertumbuhan seseorang, anak-anak laki-laki biasanya bermain dengan melompat tali. Mereka menancapkan dua tiang sebelah menyebelah, membuat batu tumpuan, lalu melompatinya. Dari yang rendah, dan lama-lama ditinggikan. Ada juga dengan bantuan dua orang teman yang memegang masing-masing ujung tali, dan yang lain melompatinya secara bergilir. Mereka bermain dengan semangat kebersamaan dan perjuangan.</p>
<p align="justify">Untuk latihan dan permainan, sekumpulan anak laki-laki menumpuk tanah liat dan membentuknya seperti lompat batu, walaupun ketinggiannya tidak sama. Mulai dari satu meter. Setelah mampu melewati itu, maka mereka menumpuk tanah liat untuk menambah ketinggiannya. Permainan ini telah membuat anak-anak terbiasa melompat hingga dapat melompat batu setinggi dua meter dengan sempurna. Bahkan ada yang lebih.</p>
<p align="justify">Agar lebih mahir, pada sore hari, ketika para pemuda desa pulang dari ladang, maka mereka beramai-ramai latihan melompat batu. Terlebih pada sore hari minggu atau hari besar lainnya. Melompat batu merupakan sarana olah raga dan permainan yang menyenangkan bagi mereka dan menarik perhatian penonton.</p>
<p align="justify"><strong>Tidak semua dapat melompat batu</strong></p>
<p align="justify">Walaupun latihan terus, ternyata tidak semua laki-laki dapat melompat. Ada yang sangkut-sangkut terus. Bahkan ada juga yang sampai kecelakaan, misalnya patah lengan, kaki dll. Ada kepercayaan bahwa hal ini dipengaruhi oleh faktor genetika. Jika ayahnya atau kakeknya seorang pemberani dan pelompat batu, maka d antara para putranya pasti ada yang dapat melompat batu. Kalau ayahnya dahulu adalah seorang pelompat batu semasih muda, maka anak-anaknya pasti dapat melompat walaupun latihannya sedikit. Bahkan ada yang hanya mencoba satu-dua kali, lalu, bisa melompat dengan sempurna tanpa latihan dan pemanasan tubuh.</p>
<p align="justify">Kemampuan dan ketangkasan melompat batu juga dihubungkan dengan kepercayaan lama. Seseorang yang baru belajar melompat batu, ia terlebih dahulu memohon restu dan meniati roh-roh para pelompat batu yang telah meninggal. Ia musti memohon izin kepada arwah para leluhur yang sering melompati batu tersebut. Tujuanya untuk menghindari kecelakaan atau bencana bagi para pelompat ketika sedang mengudara, lalu menjatuhkan diri ke tanah. Sebab banyak juga pelompat yang gagal dan mendapat kecelakaan.</p>
<p align="justify"><strong>Konflik antar kampung</strong></p>
<p align="justify">Dahulu, melompat batu merupakan kebutuhan dan persiapan untuk mempertahankan diri dan membela nama kampung. Apapun dikorbankan demi kehormatan pada kampung sendiri &#8216;<em>fabanuasa</em>.&#8217; &#8220;<em>&#214;ndr&#246;ra va banuasa, kiri-kiri mbambat&#246;</em>.&#8221; Itulah motto dan prinsip dalam membela dan mempertahankan nama kampung. Artinya, rasa patriotis pada kampung lebih utama dari pada hubungan kekerabatan. Kejadian pada salah seorang warga kampung, merupakan peristiwa pada seluruh warga. Misalnya: Jika salah seorang warga kampung A disakiti oleh warga desa B, maka warga desa A yang lain akan turut membalasnya. Demikian sebaliknya. Hal ini menjadi sumber konflik antar kampung yang penyelesaianya kompleks dan meninggalkan dendam kesumat &#8216;<em>hor&#246; manana.</em>&#8216;</p>
<p align="justify">Banyak penyebab konflik dan perang antar kampung. Misalnya: Masalah perbatasan tanah, perempuan dan sengketa lainnya. Hal ini mengundang desa yang satu menyerang desa yang lain, sehingga para prajurit &#8216;<em>samu&#8217;i</em>&#8216; yang ikut dalam penyerangan, harus memiliki ketangkasan melompat untuk menyelamatkan diri.</p>
<p align="justify">Akan tetapi dahulu, ketika tradisi berburu kepala manusia &#8216;<em>mangai h&#246;g&#246;</em>&#8216; masih dijalankan, peperangan antar kampung juga sangat sering terjadi. Ketika para pemburu kepala manusia dikejar atau melarikan diri, maka mereka harus mampu melompat pagar atau benteng desa sasaran yang telah dibangun dari batu atau bambu atau dari pohon &#8216;<em>tali&#8217;anu</em>&#8216; supaya tidak terperangkap di daerah musuh.</p>
<p align="justify">Itu juga sebabnya desa-desa didirikan di atas bukit atau gunung &#8216;<em>hili</em>&#8216; supaya musuh tidak gampang masuk dan tidak cepat melarikan diri.</p>
<p align="justify"><strong>Benteng Desa</strong></p>
<p align="justify">Ketangkasan melompat dibutuhkan karena dahulu setiap desa telah dipagar atau telah membuat benteng pertahanan yang dibuat dari batu, bambu atau bahan lain yang sulit dilewati oleh musuh. Ada juga yang menggali lubang di sekeliling perkampungan supaya musuh-musuh jatuh ke dalamnya ketika melarikan diri atau memasuki desa sasaran.</p>
<p align="justify">Benteng-benteng desa yang dulunya disusun dari batu, sudah tidak kelihatan lagi sekarang, karena keserakahan manusia. Diruntuhkan dan diambil sebagai bahan bangunan.</p>
<p align="justify">Para pemuda yang kembali dengan sukses dalam misi penyerangan desa lain, akan menjadi pahlawan di desanya. Jika mereka menang dan tidak ada yang tewas di antara mereka, maka menjelang tiba di kampung, dekat gerbang desa &#8216;<em>bawag&#246;li</em>,&#8217; mereka berarak dan berteriak sembari melagukan &#8220;Hoho&#8221; kemenangan.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">sumber : </p>
<p align="justify"><a href="http://mediawarisan.wordpress.com/2003/08/01/fahombo-batu-tiada-duanya-di-dunia-hanya-di-nias-ada/">http://mediawarisan.wordpress.com/2003/08/01/fahombo-batu-tiada-duanya-di-dunia-hanya-di-nias-ada/</a></p>
<p align="justify"><a href="http://meiprieva.files.wordpress.com/2008/08/lompat-batu2.jpg">http://meiprieva.files.wordpress.com/2008/08/lompat-batu2.jpg</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simadugan.com/2010/06/lompat-batu-nias/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CANDI BOROBUDUR</title>
		<link>http://simadugan.com/2010/05/candi-borobudur/</link>
		<comments>http://simadugan.com/2010/05/candi-borobudur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 16:15:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suls</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban dunia]]></category>
		<category><![CDATA[warisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simadugan.com/2010/05/candi-borobudur/</guid>
		<description><![CDATA[Seniman sekaligus arsitek Belanda bernama W.O.J Nieuwenkamp menulis di dalam bukunya yang berjudul Fiet Borobudur Meer (Danau Borobudur) pada tahun 1931, konon dahulunya Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau purba, sehingga seolah-olah bentuk Borobudur seperti ceplok bunga teratai yang mengapung di atas kolam sebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Budha.

Bersama teman-teman dari forum National Geographic]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Seniman sekaligus arsitek Belanda bernama <em><i>W.O.J Nieuwenkamp</i></em> menulis di dalam bukunya yang berjudul <em><i>Fiet Borobudur Meer</i></em> (Danau Borobudur) pada tahun 1931, konon dahulunya Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau purba, sehingga seolah-olah bentuk Borobudur seperti ceplok bunga teratai yang mengapung di atas kolam sebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Budha.
<p align="justify"><img src="http://mepow.files.wordpress.com/2009/03/borobudur-temple-292612-lw.jpg" width="488" height="366">
<p align="justify">Bersama teman-teman dari <a href="http://forum.nationalgeographic.co.id/">forum National Geographic Indonesia</a> regional Yogyakarta, saya berkesempatan menelusuri jejak-jejak danau purba di sekitar Borobudur, yang membuat saya seolah-olah sedang kuliah lapangan!
<p align="justify">Saya mendengar pernyataan ini langsung dari Ir. Helmy Murwanto, M.Sc., Ir. Sutarto, M.T., dan Dr. Sutanto, tim peneliti dari UPN Veteran Yogyakarta yang telah melakukan penelitian terhadap materi-materi tanah di sekitar Borobudur sejak tahun 1996 hingga sekarang untuk membuktikan hipotesa Nieuwenkamp.
<p align="justify"><img src="http://vibizdaily.com/resources/images/uploaded/image/SOSBUD/borobudur britannicaCom.jpg">
<p align="justify">Hipotesa danau purba Nieuwenkamp dianggap sebuah mitos oleh <em><i>Van Erp</i></em>, pemimpin tim pemugaran Candi Borobudur pada tahun 1907-1911 dari Belanda. Menurut Van Erp, hipotesa ini ngawur karena tidak didukung bukti-bukti kuat seperti prasasti tentang adanya danau di kawasan itu.</p>
<p><span id="more-538"></span>
<p align="justify">
<p align="justify">Hipotesa Nieuwenkamp ini lah yang membuat Pak Helmy yang orang Muntilan, Magelang, ini bersama kawan-kawannya tertarik meneliti materi endapan lempung hitam yang ada di dasar sungai sekitar Candi Borobudur yaitu Sungai Sileng, Sungai Progo, dan Sungai Elo.
<p align="justify">Ir. Helmy Murwanto, M.Sc., menunjukkan lempung hitam yang ditelitinya
<p align="justify">Sampel lempung hitam yang sekilas bentuknya seperti arang basah ini kemudian diteliti dengan analisis radio karbon C-14. Ternyata lempung hitam ini banyak mengandung serbuk sari (<em><i>pollen</i></em>) dari tanaman komunitas rawa atau danau, antara lain <em><i>Commelina</i></em>, <em><i>Cyperaceae</i></em>,<em><i>Nymphaea stellata</i></em>, dan <em><i>Hydrocharis</i></em>, juga fosil kayu. Dalam bahasa populer, flora ini adalah tanaman teratai, rumput air, dan paku-pakuan yang mengendap di danau saat itu. Dari analisis ini pula diketahui ternyata endapan lempung hitam bagian atas berumur 660 tahun.
<p align="justify">Pada tahun 2001, Pak Helmy dan tim melakukan pengeboran lempung hitam pada kedalaman 40 meter. Setelah dianalisis dengan radio karbon C-14 diketahui lempung hitam itu berumur 22 ribu tahun. Maka dari hasil ini bisa disimpulkan kalo danau ini sudah ada sejak 22 ribu tahun lalu (zaman <em><i>Plistosen</i></em>), dan berakhir di sekitar akhir abad ke-10 hingga abad ke-13.
<p align="justify">Dr. Sutanto menjelaskan proses terjadi endapan material vulkanik
<p align="justify">Candi Borobudur konon dibangun di atas daratan (bukit) yang terbentuk karena timbunan endapan-endapan material vulkanik dari beberapa gunung di sekitarnya, yang terbawa oleh sungai-sungai yang bermuara ke danau ini, antara lain Sungai Pabelan dari Gunung Merapi, Sungai Elo dari Gunung Merbabu, Sungai Progo dari Gunung Sumbing dan Sindoro.
<p align="justify">Sungai-sungai yang ada sekarang di sekitar Borobudur dulunya bermuara di danau purba ini. Namun seiring terbendungnya aliran-aliran sungai oleh material vulkanik, akhirnya danau ini mengering dan membuat sungai-sungai yang dulunya bemuara di danau ini mencari jalurnya sendiri hingga sekarang mengarah ke Laut Selatan.
<p align="justify">Namun ada teori lain yang mengatakan bahwa danau ini sudah mengering jauh sebelum Borobudur dibangun, yaitu sebelum abad ke-8. Bahkan diperkirakan di lingkungan tersebut sudah terdapat pemukiman penduduk ketika Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra dengan arsitek Gunadharma ini.
<p align="justify">Hal ini bisa ditengarai dari pemakaman umum di beberapa desa di sekitar Borobudur yang berumur sebelum tahun 1300. Nisan makam kuno terbuat dari kayu jati relatif tipis, bukan dari batu. Teori ini dikemukakan oleh budayawan Aris Sutomo, penulis buku <em><i>Temples of Java</i></em>.
<p align="justify">Yang menarik, ada dugaan lain bahwa awalnya danau ini bagian dari laut yaitu terbentuk dari laut yang terjebak, karena ditemukannya beberapa sumur yang airnya asin di di Desa Candirejo, Sigug, dan Ngasinan. Selain itu, bebatuan karang di Bukit Menoreh di sebelah selatan Borobudur ditengarai sebagai karang laut zaman dahulu.
<p align="justify">Bila Van Erp mempertanyakan bukti-bukti prasasti, tim Helmy menggunakan prasasti toponim (asal mula penamaan) nama daerah di sekitar Borobudur, yang berkaitan dengan lingkungan air. Misalnya nama desa Bumi Segoro di sebelah barat daya Borobudur, yang mana “bumi” berarti daratan dan “segoro” berarti laut atau danau. Juga ada desa bernama Sabrang Rowo (menyeberang rawa/danau) di sebelah selatan Borobudur.
<p align="justify">Lapisan tanah di salah satu tepi Sungai Progo
<p align="justify">Penelitian tim dari UPN ini bertujuan untuk mencari tahu sejarah perkembangan lingkungan Borobudur dari waktu ke waktu, mulai dari awal terbentuknya danau, yaitu dugaan air laut yang terjebak hingga berkembang menjadi danau, kemudian danau menjadi rawa, dan rawa menjadi dataran, menggunakan analisis lapisan tanah dan batuan.
<p align="justify">Selain tim peneliti dari UPN ini, penelitian serupa untuk membuktikan hipotesa Nieuwenkamp juga dilakukan pernah oleh seorang ahli geologi bernama <em><i>Van Bemmelen</i></em> pada tahun 1949.
<p align="justify">Dalam bukunya yang berjudul <em><i>The Geology of Indonesia</i></em> (Geologi Indonesia), Van Bemmelen menyebutkan di daerah Magelang bagian selatan dulu pernah terbentuk danau yang terbentuk oleh letusan kuat dari Gunung Merapi tahun 1006 M (meski beberapa ahli mempertanyakan catatan tahun letusan Merapi tahun 1006 M ini).
<p align="justify">Letusan ini mengakibatkan sebagian puncak Merapi longsor ke arah barat daya, kemudian tertahan oleh Bukit Menoreh bagian timur yang berada di selatan daerah Borobudur. Akibatnya, material longsoran tersebut membendung aliran Kali Progo di timur Borobudur, sehingga terbentuklah genangan yang luas di dataran Magelang bagian selatan. Setelah berabad-abad, sumbatan yang membendung Kali Progo hilang oleh proses erosi, akhirnya danau mengering.
<p align="justify">Dr. Sutanto bersama rekan-rekan Forum NGI regional Jogja
<p align="justify">Nah, bila memang benar di sekeliling Borobudur saat itu terdapat danau atau rawa, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah batu-batu ini dibentuk dan bagaimana batu-batu ini dibawa ke bukit Borobudur untuk disusun menjadi candi. Apakah batu dibawa dalam bentuk utuh atau sudah berbentuk potongan-potongan balok batu?
<p align="justify">Bila batuan dibawa dalam bentuk balok-balok itu, di manakah bengkel pemotongan batu ini? Bila memang dilakukan di tempat lain, di mana kah letak pemotongan batu ini? Bila batu dibawa dalam bentuk utuh kemudian dibentuk di bukit Borobudur, di mana kah “sampah” batu bekas ukiran dibuang?
<p align="justify">Borobudur rupanya mempunyai sejarah dan pesona yang sampai sekarang masih menjadi misteri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simadugan.com/2010/05/candi-borobudur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Refleksi Pendidikan Nasional 2 Mei</title>
		<link>http://simadugan.com/2010/05/refleksi-pendidikan-nasional-2-mei/</link>
		<comments>http://simadugan.com/2010/05/refleksi-pendidikan-nasional-2-mei/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 May 2010 11:59:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suls</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[2 mei]]></category>
		<category><![CDATA[hardiknas]]></category>
		<category><![CDATA[hari pendidikan nasional]]></category>
		<category><![CDATA[may]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simadugan.com/2010/05/refleksi-pendidikan-nasional-2-mei/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap tanggal 2 Mei Negara kita merayakan acara seremonial, Hari Pendidikan. Tiap tanggal ini kita mempunyai momentum untuk merefleksikan kondisi pendidikan di Indonesia. Media terus membicarakan isu-isu pendidikan yang terjadi di negara kita.

Bagaimana kondisi pendidikan di Negara kita sekarang? terserah pembaca bagaimana menilainya, masing-masing dari kita mempunyai perspektif yang berbeda dalam melihat hal ini. Fakta]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><font size="2">Setiap tanggal 2 Mei Negara kita merayakan acara seremonial, Hari Pendidikan. Tiap tanggal ini kita mempunyai momentum untuk merefleksikan kondisi pendidikan di Indonesia. Media terus membicarakan isu-isu pendidikan yang terjadi di negara kita.</font>
<p align="justify"><img src="http://apdnsemarang.files.wordpress.com/2009/07/ws-rendra.gif" width="192" height="235">
<p align="justify"><font size="2">Bagaimana kondisi pendidikan di Negara kita sekarang? terserah pembaca bagaimana menilainya, masing-masing dari kita mempunyai perspektif yang berbeda dalam melihat hal ini. Fakta yang kita lihat bisa dijadikan acuan bagaimana kondisi Pendidikan di Negara kita.</font>
<p align="justify"><img align="left" src="http://niishaonchoem.files.wordpress.com/2010/01/dinamika_pendidikan_400.jpg" width="251" height="199">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <img src="http://bliwayan.files.wordpress.com/2009/01/tutwuri-handayaniwarna.jpg" width="200" height="198"></p>
<p><span id="more-537"></span>
<p align="justify"><font size="2">Masih relevan puisi dari Alm. WS Rendra yang dibacakannya pada tahun 1977 yang berjudul &#8220;Sajak Sebatang Lisong&#8221; untuk kita refleksikan dengan tahun 2010 sekarang.</font>
<p><strong><font size="3"></font></strong>&nbsp;</p>
<div style="padding-bottom: 0px; margin: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; padding-top: 0px" id="scid:5737277B-5D6D-4f48-ABFC-DD9C333F4C5D:d70610ab-175d-4319-a3e4-16972c71e864" class="wlWriterSmartContent">
<div id="c908665c-d840-4ff7-871b-97ee7285ee36" style="margin: 0px; padding: 0px; display: inline;">
<div><a href="http://www.youtube.com/watch?v=lPUX5s-NQLM&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" target="_new"><img src="http://simadugan.com/wp-content/uploads/2010/05/videob622e08696e3.jpg" galleryimg="no" onload="var downlevelDiv = document.getElementById('c908665c-d840-4ff7-871b-97ee7285ee36'); downlevelDiv.innerHTML = &quot;&lt;div&gt;&lt;object width=\&quot;425\&quot; height=\&quot;350\&quot;&gt;&lt;param name=\&quot;movie\&quot; value=\&quot;http://www.youtube.com/v/lPUX5s-NQLM&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;\&quot;&gt;&lt;\/param&gt;&lt;param name=\&quot;wmode\&quot; value=\&quot;transparent\&quot;&gt;&lt;\/param&gt;&lt;embed src=\&quot;http://www.youtube.com/v/lPUX5s-NQLM&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;\&quot; type=\&quot;application/x-shockwave-flash\&quot; wmode=\&quot;transparent\&quot; width=\&quot;425\&quot; height=\&quot;350\&quot;&gt;&lt;\/embed&gt;&lt;\/object&gt;&lt;\/div&gt;&quot;;" alt=""></a></div>
</div>
</div>
<p><strong><font size="3"></font></strong>&nbsp;
<p><strong><font size="3">Sajak Sebatang Lisong &#8211; WS Rendra</font></strong>
<p>Menghisap sebatang lisong<br />melihat Indonesia Raya,<br />mendengar 130 juta rakyat,<br />dan di langit<br />dua tiga cukong mengangkang,<br />berak di atas kepala mereka
<p>Matahari terbit.<br />Fajar tiba.<br />Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak<br />tanpa pendidikan.
<p>Aku bertanya,<br />tetapi pertanyaan-pertanyaanku<br />membentur meja kekuasaan yang macet,<br />dan papantulis-papantulis para pendidik<br />yang terlepas dari persoalan kehidupan.
<p>Delapan juta kanak-kanak<br />menghadapi satu jalan panjang,<br />tanpa pilihan,<br />tanpa pepohonan,<br />tanpa dangau persinggahan,<br />tanpa ada bayangan ujungnya.<br />…………………
<p>Menghisap udara<br />yang disemprot deodorant,<br />aku melihat sarjana-sarjana menganggur<br />berpeluh di jalan raya;<br />aku melihat wanita bunting<br />antri uang pensiun.
<p>Dan di langit;<br />para tekhnokrat berkata :
<p>bahwa bangsa kita adalah malas,<br />bahwa bangsa mesti dibangun;<br />mesti di-up-grade<br />disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
<p>Gunung-gunung menjulang.<br />Langit pesta warna di dalam senjakala<br />Dan aku melihat<br />protes-protes yang terpendam,<br />terhimpit di bawah tilam.
<p>Aku bertanya,<br />tetapi pertanyaanku<br />membentur jidat penyair-penyair salon,<br />yang bersajak tentang anggur dan rembulan,<br />sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya<br />dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan<br />termangu-mangu di kaki dewi kesenian.
<p>Bunga-bunga bangsa tahun depan<br />berkunang-kunang pandang matanya,<br />di bawah iklan berlampu neon,<br />Berjuta-juta harapan ibu dan bapak<br />menjadi gemalau suara yang kacau,<br />menjadi karang di bawah muka samodra.<br />………………
<p>Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.<br />Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,<br />tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.<br />Kita mesti keluar ke jalan raya,<br />keluar ke desa-desa,<br />mencatat sendiri semua gejala,<br />dan menghayati persoalan yang nyata.
<p>Inilah sajakku<br />Pamplet masa darurat.<br />Apakah artinya kesenian,<br />bila terpisah dari derita lingkungan.<br />Apakah artinya berpikir,<br />bila terpisah dari masalah kehidupan.
<p>19 Agustus 1977<br />ITB Bandung<br />Potret Pembangunan dalam Puisi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simadugan.com/2010/05/refleksi-pendidikan-nasional-2-mei/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandingkan dan Renungkan</title>
		<link>http://simadugan.com/2010/04/bandingkan-dan-renungkan/</link>
		<comments>http://simadugan.com/2010/04/bandingkan-dan-renungkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 15:30:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suls</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[koruptor]]></category>
		<category><![CDATA[luar biasa]]></category>
		<category><![CDATA[orang berpengaruh]]></category>
		<category><![CDATA[relawan]]></category>
		<category><![CDATA[volunteer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simadugan.com/2010/04/bandingkan-dan-renungkan/</guid>
		<description><![CDATA[ 
&#160;
Nama-nama Artalyta dan Gayus Tambunan pasti sudah tidak asing lagi bagi telinga anda, karena dua nama ini pernah menjadi &#8220;selebriti&#8221; media elektronik di negara kita. Namun apakah pembaca sekalian mengenal nama-nama seperti Daniel Alexander, Budi Soehardi dan Anne Avantie ? Mereka jarang sekali diangkat oleh media elektronik sehingga nama-nama tersebut terasa asing di telinga]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://api.ning.com/files/8aPhlR0xND1*iwCT8r421st1FDtbOAw0VGmCJZA1ztkTxMr5SZBq9XRzdACbALIftinoVn4zhUMPnj8nD2YhPuE60ErvxYiH/HumanityHealingLogo.jpg" width="161" height="161"> </p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nama-nama Artalyta dan Gayus Tambunan pasti sudah tidak asing lagi bagi telinga anda, karena dua nama ini pernah menjadi &#8220;selebriti&#8221; media elektronik di negara kita. Namun apakah pembaca sekalian mengenal nama-nama seperti<strong> Daniel Alexander, Budi Soehardi dan Anne Avantie</strong> ? Mereka jarang sekali diangkat oleh media elektronik sehingga nama-nama tersebut terasa asing di telinga kita. Penulis disini hanya mengajak kita untuk berfikir sejenak, lalu silahkan bagi para pembaca untuk mencari informasi lebih jauh terhadap apa yang penulis sajikan berikut ini</p>
<p><span id="more-529"></span><br />
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="2" width="400">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="200"><a title="Silahkan diKlik Juragan" href="http://edition.cnn.com/SPECIALS/cnn.heroes/archive09/budi.soehardi.html"><img style="margin: 0px 5px 0px 0px" align="left" src="http://3.bp.blogspot.com/_y7UORwi1Mr4/S2hsjxG9KSI/AAAAAAAAALM/7m213Lmp7P0/s400/archive.budi.soehardi.cnn.jpg" width="206" height="180"></a></td>
<td valign="top" width="200"><a title="Sia*L ni Juragan Satu ini.!!!" href="http://nasional.vivanews.com/news/read/138391-siapakah_gayus_tambunan_"><img style="margin: 0px" align="left" src="http://www.calegindonesia.com/content/files/images/news/gayus tambunan.jpg" width="228" height="182"></a></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="200"><a href="http://www.anneavantie.com/wisma-kasih/awal-perjumpaan.html"><img src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:_7f0zfRY_lUAdM::blog.beswandjarum.com/reggiesurya/files/2009/12/anne.jpg&amp;t=1&amp;h=253&amp;w=200&amp;usg=__MZMllWK5t4ZADyTOi_VGjVy8d50=" width="216" height="253"></a> </td>
<td valign="top" width="200"><a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/11/05/brk,20071105-110794,id.html"><img src="http://basisme1484.files.wordpress.com/2009/12/adelin-lis.jpg" width="233" height="254"></a> </td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="200"><a href="http://www.terangdunia.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=168:daniel-alexander-menabur-kasih-di-ujung-timur&amp;catid=39:profil&amp;Itemid=91"><img src="http://images.pendidikpembidik.multiply.com/image/1/photos/upload/300x300/RtaUYwoKCpgAAHJYbeI1/danielnlouis.png?et=a2Te8D5s8Hn35DzHu72WKg" width="218" height="245"></a> </td>
<td valign="top" width="200"><a href="http://berita.liputan6.com/producer/201001/258568/Sang.Mafia.Bernama.Artalyta"><img src="http://kamarbudaya.files.wordpress.com/2008/09/artalyta-2.jpg" width="240" height="250"></a> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>reference :</p>
<p><a href="http://kickandy.com/theshow/2010/04/16/1865/1/1/1/MEREKA-YANG-TERPANGGIL-">http://kickandy.com/theshow/2010/04/16/1865/1/1/1/MEREKA-YANG-TERPANGGIL-</a></p>
<p><a href="http://www.medantalk.com/top-10-cnn-heros-budi-soehardi-pahlawan-berhati-mulia/">http://www.medantalk.com/top-10-cnn-heros-budi-soehardi-pahlawan-berhati-mulia/</a></p>
<p><a href="http://edition.cnn.com/SPECIALS/cnn.heroes/archive09/budi.soehardi.html">http://edition.cnn.com/SPECIALS/cnn.heroes/archive09/budi.soehardi.html</a></p>
<p><a href="http://www.terangdunia.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=168:daniel-alexander-menabur-kasih-di-ujung-timur&amp;catid=39:profil&amp;Itemid=91">http://www.terangdunia.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=168:daniel-alexander-menabur-kasih-di-ujung-timur&amp;catid=39:profil&amp;Itemid=91</a></p>
<p><a href="http://berita.liputan6.com/producer/201001/258568/Sang.Mafia.Bernama.Artalyta">http://berita.liputan6.com/producer/201001/258568/Sang.Mafia.Bernama.Artalyta</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simadugan.com/2010/04/bandingkan-dan-renungkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yogyakarta (asal-usul)</title>
		<link>http://simadugan.com/2010/03/yogyakarta-asal-usul/</link>
		<comments>http://simadugan.com/2010/03/yogyakarta-asal-usul/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 17:07:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suls</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[asal-usul]]></category>
		<category><![CDATA[hamengkubuwono]]></category>
		<category><![CDATA[pakubuwono]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simadugan.com/2010/03/yogyakarta-asal-usul/</guid>
		<description><![CDATA[ Keberadaan Kota Yogyakarta tidak dapat terlepas dari berdirinya Kraton Kasultanan Yogyakarta pada tanggal 13 Februari 1755 bertepatan dengan terlaksananya Perjanjian Giyanti yang menandai terbaginya Kerajaan Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, meskipun Kasultanan Yogyakarta secara de jure telah ada sejak tahun 1755, namun keberadaan Kota Yogyakarta sebagai]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="margin: 0px 10px 0px 0px;" src="http://img208.imageshack.us/img208/6885/tuguf.jpg" alt="" align="left" /> Keberadaan Kota Yogyakarta tidak dapat terlepas dari berdirinya Kraton Kasultanan Yogyakarta pada tanggal 13 Februari 1755 bertepatan dengan terlaksananya Perjanjian Giyanti yang menandai terbaginya Kerajaan Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, meskipun Kasultanan Yogyakarta secara de jure telah ada sejak tahun 1755, namun keberadaan Kota Yogyakarta sebagai ibukota Kasultanan Yogyakarta baru ada pada tanggl 7 Oktober 1756 (berdasarkan sengkalan memet Dwi Naga Rasa Tunggal). Hal ini merupakan pertanda mulai ditempatinya Kraton Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan Sultan HB I dimana sebelumnya beliau memerintah dari Pesanggrahan Ambarketawang pada saat Kraton Yogyakarta dibangun. Pemerintah Kota Yogyakarta telah menerbitkan buku tentang Hari Jadi Kota Yogyakarta yang menjelaskan segala sesuatu tentang keberadaan awal Kota Yogyakarta sebagai ibukota Kasultanan Yogyakarta.</p>
<p><span id="more-483"></span>Perjanjian Giyanti atau Palihan Nagari disepakati pada 13 Pebruari 1755. Sehari sesudahnya Pangeran Mangkubumi resmi bergelar &#8221; Kanjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayyidin Panatagama Kalifatullah Ing Ngayogyakarta Hadingrat Ingkang Jumeneng Kaping Sepisan&#8221; ( Sri Sultan Hamengku Buwana I ).</p>
<p>Selama menunggui pembangunan fisik Kraton Sri Sultan Hamengku Buwana I bertempat tinggal sementara ( mesanggrah ) di pesanggrahan Garjitowati, Ambar Ketawang. Pada hari kamis Pahing, 13 Syura-Jimakir 1682 Tahun Jawa atau 7 Oktober 1756 M, Sri Sultan Hamengku Buwana I mulai menempati Kraton yang baru. Sejak saat itulah kehidupan sebuah kota mulai bertumbuh.</p>
<p>Nama Ngayogyakarta atau Yogyakarta sendiri diambil dari kata Ayodya, nama kerajaan Prabu Sri Rama dalam babad Ramayana. Tanggal 7 Oktober 1756 selanjutnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Yogyakarta melalui Peraturan Daerah Kota Yogyakarta No. 6 Tahun 2004.</p>
<p>===========================================================oOo=========================================================<br />
Kedaulatan Rakyat 4 Mei 2008</p>
<p>Nama kota Yogyakarta memiliki sejarah yang panjang. Dimulai dari sejarah alas Paberingan yang pertama kali dimanfaatkan oleh Panembahan Hanyakrawati (RM Jolang) raja kedua Mataram II (1601-1613) yang menggantikan Panembahan Senopati Ing Ngalaga (1586-1601) dan kemudian menjadi kawasan yang selalu terpilih dan muncul melalui wisik yang diterima oleh beberapa raja-raja Mataram berikutnya.</p>
<p>Kata Yogyakarta sendiri merupakan pergeseran lafal (pengucapan) dari kata bahasa Jawa Ngayogyakarta, bentukan dari dua kata ngayogya dan karta. Kata ngayogya dari kata dasar yogya artinya pantas, baik. Ngayogya artinya menuju cita-cita yang baik dan karta artinya aman, sejahtera. Ngayogyakarta artinya mencapai kesejahteraan (bagi negeri dan rakyatnya).</p>
<p>Nama tersebut bukan diciptakan oleh pendiri Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yakni Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwono I), tetapi telah dicita-citakan kurang lebih 37 tahun sebelumnya oleh paman buyutnya, yakni Paku Buwana I (Pangeran Puger, adik Amangkurat I), raja ke-2 Keraton Kartasura.</p>
<p>Situs pusat keraton Mataram II yang pertama terletak di Ngeksigondo yang masih dapat kita saksikan sisa-sisa bangunan terbuat dari bata dan nama-nama kawasan yang hingga kini tetap digunakan seperti Banguntapan, Kanoman, Gedong Kuning, Gedong Kiwa, Gedong Tengen, bekas Pemandian Warungbata, Winong, Sar Gedhe (jadi Kota Gede), Kompleks Makam Senopaten dan sebagainya yang tersebar sejak 1 kilometer sebelah utara hingga selatan Kota Gede.</p>
<p>Dan alas Paberingan yang terletak sekitar 5 kilometer sebelah barat Ngeksigondo, pada masa pemerintahan Panembahan Hanyakrawati telah dibangun menjadi hutan rekreasi raja berpagar keliling bambu (krapyak) untuk perburuan kijang, dinamakan alas Krapyak. Di situ pula Hanyakrawati terluka parah hingga akhirnya wafat, dibunuh oleh pejabat istananya sendiri Pangeran Wiramenggala (Kyai Ageng Bengkung). Atas peristiwa itulah Hanyakrawati dikenal sebagai Panembahan Seda Krapyak.</p>
<p>Konon menjelang akhir pemerintahan Sunan Amangkurat I -Tegal Arum (1646-1677) mendapat wisik bahwa alas Paberingan kejatuhan wahyu keraton. Sehingga ia bermaksud memindahkan keraton Ngeksigondo ke hutan tersebut, telah dimulai dengan membangun betengnya. Calon keraton itu akan dinamakan Garjitawati yang berarti osiking raos ingkang sejatos (kata hati yang murni).</p>
<p>Rencana itu tidak berlanjut sebab Keraton Mataram keburu direbut Pemberontak Trunojoyo yang didukung rakyat, menentang Amangkurat I yang mengakui kedaulatan Kumpeni dan bertindak kejam membantai 6.000 Santri Giri dan juga kerabat dekatnya sendiri. Dengan bantuan pasukan Banyumas dan Bagelen/Kebumen pemberontakan Trunojoyo dapat ditumpas dan Amangkurat Jawa (P Anom Amral) bertahta bergelar Amangkurat II-Amral (1677-1678). Kotaraja yang rusak dipindah ke Kreta (yang artinya aman, sejahtera).</p>
<p>Pada tahun 1703 Amangkurat III-Sunan Mas memindahkan Kotaraja ke Kartasura (1703-1704). Pada masa pemerintahannya Sunan Paku Buwana I (P Puger, 1704-1719) bermaksud melanjutkan cita-cita Amangkurat I membangun kembali calon kraton Garjitawati dan akan dinamakannya Ngayogyakarta.</p>
<p>Namun sebelum niat itu terlaksana, PB I keburu wafat, digantikan Amangkurat IV (1719-1727). Penggantinya, Paku Buwana II memindahkan keraton Kartasura ke Surakarta (1745-1749) setelah Pemberontakan Pacina ditumpas Kawasan alas Paberingan dibangun menjadi Kadipaten Mataram di bawah T Jayawinata. Pada tahun 1746 P Mangkubumi diberi mandat PB II untuk meneruskan keberadaan keraton Jawa sebab Surakarta akan menjadi milik Kumpeni sesuai Perjanjian Panaraga.</p>
<p>Pada tahun ketiga Pemberontakan Mangkubumen, dalam suatu pertempuran melawan pasukan gabungan Surakarta-Kumpeni, P Mangkubumi terdesak hingga lereng Gunung Merapi, namun atas kegigihan senapati andalannya, T Rangga Wirasetika, akhirnya dapat merebut Kadipaten Mataram. T Jayawinata takluk dan menjadi pengikutnya. P Mangkubumi tinggal beberapa lama di Kadipaten itu, dan ketika diserang oleh pasukan Surakarta-Kumpeni, sebelum meninggalkan Mataram seluruh kadipaten seisinya dihan-curkan terlebih dahulu agar tidak dimanfaatkan oleh kekuasaan Surakarta-Kumpeni Cita-cita Paku Buwana I itu akhirnya bisa diwujudkan oleh P Mangkubumi (Sultan Hamengku Buwana I) pada tahun 1756, setahun setelah Perjanjian Giyanti ditandatangani (1755).</p>
<p>Alas Paberingan dibangun secara bertahap menjadi kompleks keraton dan dinamakannya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, lengkap dengan segala taman-tamannya seperti Taman Sari, Kali Larangan untuk mengisi Segaran dengan Pulau Kenanga di tengahnya yang dinamakan Yasa Kambang, dan Panggung Krayak di luar benteng keraton seperti yang kita saksikan sekarang. Arsitek yang ditugasi membangun adalah T Mangundipura.</p>
<p>===========================================================oOo=========================================================</p>
<p>Kakekku pernah bercerita, bahwa nama kota Yogyakarta yang asli berasal dari kata Sangsekrit &#8220;A-yodya-karta&#8221;, yang artinya kota kemenangan yang makmur (a=tidak, yodya=kalah, karta=makmur; a-yodya-karta = tidak terkalahkan lagi makmur). Dikatakannya pula, kata A-yodya ini semula merujuk pada nama ibu kota Kerajaan Prabu Sri Rama dalam lakon Ramayana.</p>
<p>Bahwa (masih menurut kakekku) istilah a-yodya-karta kemudian terpeleset menjadi Nga-Yogyakarta, dikarenakan orang Jawa tidak bisa (sulit) mengucapkan huruf A yang ada didepan sebuah kalimat. Maka, huruf A itu berubah menjadi Nga. Maka A-Yodya-Karta dilafalkan menjadi Nga-Yugyo-Karto.</p>
<p>Dan masih menurut kakekku: Kemudian datanglah orang Belanda yang tidak bisa (sulit) mengucapkan kata/lafal Nga, maka demi mudahnya pengucapan, orang Belanda menghilangkan lafal Nga itu. Maka para Belanda menyebut Nga-yugyo-karto menjadi Jogyakarta atau Yogyakarta. Yang tentu artinya menjadi &#8220;Kota yang kalah, meskipun makmur&#8221; (karena kata/lafal Nga sudah dihilangkan).</p>
<p>Hingga sampai ke masa kini (tutur Kakekku yang pernah jadi Anggota Dewan Kota Yogyakarta ini) kota ini resminya bernama Kota Yogyakarta (orang luar Yogya menyebutnya Jogyakarta), yang artinya seperti di atas tadi, yakni: Kota yang kalah, walaupun (mungkin) makmur.</p>
<p>Kakekku bukan pujangga, bukan pula ahli bahasa Jawa. Mungkin Beliau cuma mengarang saat mendongeng kepadaku, tentang asal-usul nama Kota Kecintaan Beliau ini.</p>
<p>sumber : anonymous</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simadugan.com/2010/03/yogyakarta-asal-usul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

