<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Silahkan Mampir Dulu Juragan &#187; cinta</title>
	<atom:link href="http://simadugan.com/tag/cinta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://simadugan.com</link>
	<description>Informasi Warisan Budaya Indonesia, Hiburan, Kord dan Lirik Lagu</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Jun 2010 15:13:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>AKU BERSUNGGUH AKAN MENCINTAIMU&#8230; (part3)</title>
		<link>http://simadugan.com/2010/03/aku-bersungguh-akan-mencintaimu-part3/</link>
		<comments>http://simadugan.com/2010/03/aku-bersungguh-akan-mencintaimu-part3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 14:42:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suls</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen Sahabat Juragan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[romantis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simadugan.com/2010/03/aku-bersungguh-akan-mencintaimu-part3/</guid>
		<description><![CDATA[ Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.
Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan di amplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.
Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img style="margin: 0px 10px 0px 0px" align="left" src="http://www.hickerphoto.com/data/homepage/67/panoramic_bridge.jpg" width="181" height="100"> Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.
<p align="justify">Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan di amplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.
<p align="justify">Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya..
<p align="justify">Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku? Itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku!
<p align="justify">Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus di dalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.
<p align="justify">**********
<p align="justify">Setahun kemudian&#8230;
<p align="justify">Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
<p align="justify">&#8230;.
<p align="justify">Mario, suamiku&#8230;.
<p align="justify">Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja di kantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa di atas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku&#8230; Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku&#8230;..
<p align="justify">Ternyata aku keliru&#8230;. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.
<p align="justify">Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, &#8220;Kenapa, Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? Dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku.&#8221;
<p align="justify">Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
<p align="justify">Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.
<p align="justify">Istrimu,
<p align="justify">Rima
<p align="justify">Di surat yang lain,
<p align="justify">&#8220;&#8230;&#8230;&#8230;Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari ke dua bola matamu saat memandang Meisha&#8230;&#8230;&#8221;
<p align="justify">Di surat yang kesekian,
<p align="justify">&#8220;&#8230;&#8230;.Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
<p align="justify">Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang ke rumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur di samping tempat tidurmu, di rumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah&#8230;&#8230;.
<p align="justify">Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya&#8230;&#8230;..&#8221;
<p align="justify">Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya&#8230; dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu di sampingnya.
<p align="justify">Di surat terakhir, pagi ini&#8230;
<p align="justify">&#8220;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya di rumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.
<p align="right">bersambung&#8230;.
<p align="left">sumber : anonymous </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simadugan.com/2010/03/aku-bersungguh-akan-mencintaimu-part3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AKU BERSUNGGUH AKAN MENCINTAIMU&#8230; (part 1)</title>
		<link>http://simadugan.com/2010/03/aku-bersungguh-akan-mencintaimu-part-1/</link>
		<comments>http://simadugan.com/2010/03/aku-bersungguh-akan-mencintaimu-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2010 09:42:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kiki rahmawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen Sahabat Juragan]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simadugan.com/2010/03/aku-bersungguh-akan-mencintaimu-part-1/</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img style="margin: 0px 10px 0px 0px" align="left" src="http://www.hickerphoto.com/data/homepage/24/sunset_pictures_T2339.jpg">Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.</p>
<p align="justify">Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.</p>
<p><span id="more-466"></span>
<p align="justify">Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.
<p align="justify">Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua di luarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.
<p align="justify">Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran di kamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
<p align="justify">Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, di suatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit di rumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan di rumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama Meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.
<p align="justify">Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
<p align="justify">Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.
<p align="justify">Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi di saat lain, dia sering termenung di depan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.
<p align="right">bersambung&#8230;
<p>pict : <a href="http://www.hickerphoto.com/romantic-pictures-photos.htm">http://www.hickerphoto.com/romantic-pictures-photos.htm</a>
<p>story : anonymous </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simadugan.com/2010/03/aku-bersungguh-akan-mencintaimu-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Laki-laki Biasa &#8211; Tamat</title>
		<link>http://simadugan.com/2009/06/cinta-laki-laki-biasa-tamat/</link>
		<comments>http://simadugan.com/2009/06/cinta-laki-laki-biasa-tamat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 20:11:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suls</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen Sahabat Juragan]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[romantis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simadugan.com/2009/06/cinta-laki-laki-biasa-tamat/</guid>
		<description><![CDATA[“…Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, …atau membuat Nania menangis…”
***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
&#8220;Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!&#8221;
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“…Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, …atau membuat Nania menangis…”</p>
<p>***</p>
<p><img src="http://www.sesamo.com/stickers/rec/angel/angel.jpg" alt="" width="341" height="228" /><br />
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.<br />
&#8220;Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!&#8221;<span id="more-141"></span><br />
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.<br />
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.<br />
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.<br />
&#8220;Baru pembukaan satu.&#8221;<br />
&#8220;Belum ada perubahan, Bu.&#8221;<br />
&#8220;Sudah bertambah sedikit,! &#8221; kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.<br />
&#8220;Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.&#8221;<br />
Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.<br />
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.<br />
&#8220;Masih pembukaan dua, Pak!&#8221;<br />
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.<br />
&#8220;Bang?&#8221;<br />
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.<br />
&#8220;Dokter?&#8221;<br />
&#8220;Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.&#8221;<br />
Mungkin?<br />
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?<br />
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.<br />
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.<br />
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.<br />
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.<br />
&#8220;Pendarahan hebat.&#8221;<br />
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.<br />
Ada varises di mul! ut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!<br />
Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.<br />
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.<br />
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.<br />
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.<br />
***<br />
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.<br />
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.<br />
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.<br />
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.<br />
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.<br />
&#8220;Nania, bangun, Cinta?&#8221;<br />
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.<br />
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,<br />
&#8220;Nania, bangun, Cinta?&#8221;<br />
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.<br />
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.<br />
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.<br />
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.<br />
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.<br />
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.<br />
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?<br />
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.<br />
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.<br />
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.<br />
&#8220;Baik banget suaminya!&#8221;<br />
&#8220;Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!&#8221;<br />
&#8220;Nania beruntung!&#8221;<br />
&#8220;Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.&#8221;<br />
&#8220;Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!&#8221;<br />
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.<br />
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?<br />
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?<br />
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.<br />
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.<br />
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.</p>
<p>Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta Laki-laki Biasa</p>
<p><a title="http://boenga.blogspot.com/2006/08/ada-cerpen-bagus-touchy.html" href="http://boenga.blogspot.com/2006/08/ada-cerpen-bagus-touchy.html">http://boenga.blogspot.com/2006/08/ada-cerpen-bagus-touchy.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simadugan.com/2009/06/cinta-laki-laki-biasa-tamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

